Perasaan Ragu Harus Diganti Sikap Optimistis
KOMPAS/AGUS SUSANTO / Kompas Images
Ratusan penari membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam perayaan 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (20/5). Peringatan Kebangkitan Nasional ini dihadiri Presiden dan Ny Ani Susilo Bambang Yudhoyono serta Wakil Presiden dan Ny Mufidah Jusuf Kalla.
Rabu, 21 Mei 2008 | 03:00 WIB
Jakarta, Kompas – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, dengan bekal sejarah selama 100 tahun terakhir, Indonesia akan bisa mengatasi imbas krisis energi dan krisis pangan dunia yang mengancam perekonomian nasional. Ia menilai arah perjalanan Indonesia sudah benar dan Indonesia akan bisa menjadi negara maju pada abad ke-21.
Keyakinan dan optimisme itu disampaikan Presiden dalam pidato Hari Kebangkitan Nasional yang disiarkan serentak oleh semua stasiun televisi di Indonesia, Selasa (20/5) petang.
”Krisis energi dan pangan dunia akan bisa kita atasi karena sejak 100 tahun yang lalu, sejak bangsa kita bangkit, kita telah menjadi bangsa yang berkemampuan, bangsa yang bisa. Bisa mengubah nasib, bisa bersatu, bisa mengusir penjajah, bisa meraih dan mempertahankan kemerdekaan,” ujarnya.
Dengan bekal kebisaan yang telah teruji sejarah itu, Presiden minta agar perasaan gamang, ragu, dan tidak percaya diri dijauhi dan diganti sikap optimistis. Dasarnya, selama ini, Indonesia dapat terus berdiri tegak menghadapi cobaan dan tantangan, sementara banyak negara lain terpecah belah, runtuh, dan gagal.
Agar dapat menjadi negara maju dan berhasil, Presiden menyebut tiga syarat fundamental yang harus dimiliki, yakni menjaga dan memperkuat kemandirian, mempertinggi daya saing, dan membangun peradaban bangsa.
Malamnya, lebih dari 100.000 penonton dan 30.000 pengisi acara peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional memadati Stadion Gelora Bung Karno, Senayan. Selain Presiden dan Ny Ani Yudhoyono, juga hadir Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ny Mufidah Jusuf Kalla serta sebagian besar pejabat negara.
Acara kolosal lebih dari dua jam itu menampilkan hal-hal yang serba besar untuk menumbuhkan kebanggaan, seperti paduan suara, tarian saman, tabuhan perkusi, atraksi TNI dan Polri, atraksi pencak silat, reog, dan bentangan merah putih.
Hal-hal terbesar itu ditampilkan sebagai simbolisasi kekuatan Indonesia menghadapi berbagai tantangan. Di puncak acara, pukul 21.00, Presiden menyerahkan obor kepada generasi muda berprestasi di tingkat internasional sebagai simbol regenerasi.
Aneka aktivitas
Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional dilaksanakan di berbagai wilayah di Indonesia dengan beragam aktivitas.
Di Gedung STOVIA Jakarta, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengajak warga bangsa untuk berani berkorban demi kepentingan bangsa.
Ia mengatakan, saat ini keadilan dan kesejahteraan yang diidam- idamkan belum kunjung tiba. Untuk itu, semua pihak diajak bersama-sama membangun Indonesia.
Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Pramono Anung dalam perayaan yang diadakan PDI-P dan organisasi sayapnya, Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Selasa malam, menyebutkan, keterpurukan bangsa Indonesia selama ini antara lain akibat kurangnya konsistensi menegakkan nilai-nilai Pancasila, seperti kebhinnekaan, musyawarah, dan persatuan.
”Kita harus menjadikan Pancasila sebagai pedoman dan dasar pembangunan bangsa ke depan,” kata Anung.
Ketua Umum Repdem Budiman Sudjatmiko menilai pemerintah gagal melindungi kebhinnekaan bangsa. Ada sejumlah anggota masyarakat yang saat ini tidak dapat hidup layak.
Di Pontianak, Kalimantan Barat, ribuan warga tumpah ruah berpawai di jalan protokol.
Kabut asap tipis yang menyelimuti Kota Pontianak tidak menyurutkan semangat warga yang berpakaian bernuansa merah-putih. Acara ini dipelopori Badan Pemuda Olahraga dan Pemberdayaan Perempuan Kalbar.
Di Yogyakarta, ratusan orang melakukan aksi spiritual jalan malam untuk menyongsong datangnya nur Ilahi dalam rangka mengembangkan keluhuran negara Indonesia terkait peringatan seabad Kebangkitan Nasional.
Jalan malam itu diprakarsai Forum Persaudaraan Umat Beragama dan Komite Kemanusiaan Yogyakarta, dimulai dari Monumen Jogja Kembali pada Senin malam dan berakhir di Alun-alun Utara, Selasa dini hari. (INU/JOS/WHY/A06/NWO)
Juni 26, 2009 pukul 3:37 pm |
SEMUANYA HARUS BERUBAH SELAMTKAN BANGSA INI. EKO WAYYUDI 087837910001
Juni 26, 2009 pukul 3:39 pm |
HENTIKAN PENJUALAN ASET BANGSA INI. sby HARUS pAHAM………..
Juni 26, 2009 pukul 3:41 pm |
AKU MENANGIS, PRESEIDEN KITA BUKAN MEMBELA RAKYATNYA SENDIRI, TAPI MEMBELA YANG LAINNYA. nkri DNA ibu PERTIWI MENAGIS DAN TIDAK RELA.
SADAR DAN SADARLAH PARA PEMILIH JANGAN PILIH PRESIDEN YANG MASIH DI KENDAKILAN OLEH KEPENTINGAN SEKLOMPOK TERTENTU…
Juni 26, 2009 pukul 3:42 pm |
PENDIRI DAN RAKYAT INI TIDAK TERIMA,. TOLONG KAMI SADARKAN DAN KAMI BERIKAN LAIAN BAWHA KIKATY ADLAH PENERUS pANCASILA DAN PENERUS CITA KEMERDEKAAAAN
KITA MASIH DI JAJAH………………. !!!!!
Juni 26, 2009 pukul 3:43 pm |
bank, pERTAMINA, EMAS, TAMBANG , PENDIIDKAN MERKEA SUDHA KUASAI…………. MARI KITA LAWAN
Juni 26, 2009 pukul 3:43 pm |
SBY HARUS SADAR